Senin, 29 Februari 2016

PANTAI KRAKAL Menyongsong Barrel di Pantai Krakal

PANTAI KRAKAL
Menyongsong Barrel di Pantai Krakal


Deretan pantai-pantai indah laut selatan di Gunungkidul menyembunyikan beberapa spot surfing yang menantang, salah satunya adalah Pantai Krakal.
Pantai Krakal sudah lama kondang sebagai salah satu pantai di ujung selatan Jogja yang memiliki keindahan luar biasa. Garis pantainya landai dan ditaburi pasir putih dengan hempasan ombak yang jernih. Batu karang menghiasi sebagian besar bibir pantai, menjadi rumah bagi ikan-ikan karang berwarna-warni. Ikan damselfish kuning dengan aksen biru di punggungnya, ikan kepe-kepe (butterflyfish) bergaris-garis biru tua dan biru muda, serta sekelompok ikan kecil berwarna biru terang berenang di antara bebatuan. Kaki-kaki bintang laut hitam menjulur keluar dari balik batu tempat persembunyian mereka.
Bosan bermain di pinggir pantai? Cobalah berjalan mengarungi lepas pantainya. Sederet batu karang menyembul ke permukaan dan berbaris memanjang seolah membentuk sebuah jalan setapak di lautan. Jangan lupa untuk mengenakan alas kaki mengingat tajamnya batu-batu karang ini. Beberapa nelayan melintas, mencari tempat yang strategis untuk melempar joran pancing. Yang lainnya asyik menyelam di laut dangkal untuk mencari umbal, sejenis hewan laut kecil yang hidup menempel pada batu. Oleh penduduk setempat, umbal ini kemudian diolah menjadi rempeyek yang gurih.
Selain memiliki kecantikan yang eksotik, Krakal ternyata menyembunyikan ombak yang cocok untuk bermain selancar. Surfer harus berjalan menuju ke deretan batu karang di lepas pantai untuk kemudian menyongsong ombak bertipe reef break yang cukup menantang. Dasar lautnya didominasi oleh karang sehingga surfer harus ekstra hati-hati. Dry season antara bulan Maret dan September adalah waktu terbaik untuk menunggu barrel di Krakal.

SUMBER: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/krakal/

PANTAI NGOBARAN dari Pura hingga Landak Laut Goreng

PANTAI NGOBARAN
dari Pura hingga Landak Laut Goreng

Desa Kanigoro, Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia
Pantai Ngobaran ternyata kaya pesona budaya; mulai dari pura, masjid yang menghadap ke selatan, hingga potensi kuliner terpendam yaitu landak laut goreng.
Datang ke Pantai Ngrenehan dan menikmati ikan bakarnya belum lengkap kalau tak mampir di pantai sebelahnya, Ngobaran. Letak pantai yang bertebing tinggi ini hanya kurang lebih dua kilometer dari Pantai Ngrenehan. Tak jauh bukan? Penduduk Pantai Ngrenehan saja sering membicarakan dan mampir ke Pantai Ngobaran, mengapa anda tidak?
Ngobaran merupakan pantai yang cukup eksotik. Kalau air surut, anda bisa melihat hamparan alga (rumput laut) baik yang berwarna hijau maupun coklat. Jika dilihat dari atas, hamparan alga yang tumbuh di sela-sela karang tampak seperti sawah di wilayah padat penduduk. Puluhan jenis binatang laut juga terdapat di sela-sela karang, mulai dari landak laut, bintang laut, hingga golongan kerang-kerangan.
Tapi yang tak terdapat di pantai lain adalah pesona budayanya, mulai dari bangunan hingga makanan penduduk setempat. Satu diantaranya yang menarik adalah adanya tempat ibadah untuk empat agama atau kepercayaan berdiri berdekatan. Apakah itu bentuk multikulturalisme? Siapa tahu.
Bangunan yang paling jelas terlihat adalah tempat ibadah semacam pura dengan patung-patung dewa berwarna putih. Tempat peribadatan itu didirikan tahun 2003 untuk memperingati kehadiran Brawijaya V, salah satu keturunan raja Majapahit, di Ngobaran. Orang yang beribadah di tempat ini adalah penganut kepercayaan Kejawan (bukan Kejawen lho). Nama "Kejawan" menurut cerita berasal dari nama salah satu putra Brawijaya V, yaitu Bondhan Kejawan. Pembangun tempat peribadatan ini mengaku sebagai keturunan Brawijaya V dan menunjuk salah satu warga untuk menjaga tempat ini.
Berjalan ke arah kiri dari tempat peribadatan tersebut, Anda akan menemui sebuah Joglo yang digunakan untuk tempat peribadatan pengikut Kejawen. Saat YogYES berkunjung ke tempat ini, beberapa pengikut Kejawen sedang melakukan sembahyangan. Menurut penduduk setempat, kepercayaan Kejawen berbeda dengan Kejawan. Namun mereka sendiri tak begitu mampu menjelaskan perbedaannya.
Bila terus menyusuri jalan setapak yang ada di depan Joglo, anda akan menemukan sebuah kotak batu yang ditumbuhi tanaman kering. Tanaman tersebut dipagari dengan kayu berwarna abu-abu. Titik dimana ranting kering ini tumbuh konon merupakan tempat Brawijaya V berpura-pura membakar diri. Langkah itu ditempuhnya karena Brawijaya V tidak mau berperang melawan anaknya sendiri, Raden Patah (Raja I Demak).
Kebenaran cerita tentang Brawijaya V ini kini banyak diragukan oleh banyak sejarahwan. Sebabnya, jika memang Raden Patah menyerang Brawijaya V maka akan memberi kesan seolah-olah Islam disebarkan dengan cara kekerasan. Banyak sejarahwan beranggapan bahwa bukti sejarah yang ada tak cukup kuat untuk menyatakan bahwa Raden Patah melakukan penyerangan. Selengkapnya bagaimana, mungkin Anda bisa mencari sendiri.
Beberapa meter dari kotak tempat ranting kering tumbuh terdapat pura untuk tempat peribadatan umat Hindu. Tak jelas kapan berdirinya pura tersebut.
Di bagian depan tempat ranting tumbuh terdapat sebuah masjid berukuran kurang lebih 3x4 meter. Bangunan masjid cukup sederhana karena lantainya pun berupa pasir. Seolah menyatu dengan pantainya. Uniknya, jika kebanyakan masjid di Indonesia menghadap ke Barat, masjid ini menghadap ke selatan. Bagian depan tempat imam memimpin sholat terbuka sehingga langsung dapat melihat lautan. Ketika YOGYES menanyakan pada penduduk setempat, tak banyak yang tahu tentang alasannya. Bahkan, penduduk setempat sendiri heran karena yang membangun pun salah satu Kyai terkenal pengikut Nahdatul Ulama yang tinggal di Panggang, Gunung Kidul. Sebagai petunjuk bagi yang akan sholat, penduduk setempat memberi tanda di tembok dengan pensil merah tentang arah kiblat yang sebenarnya.
Setelah puas terheran-heran dengan situs peribadatannya, Anda bisa berjalan turun ke pantai. Kalau datang pagi, maka pengunjung akan menjumpai masyarakat pantai tengah memanen rumput laut untuk dijual kepada tengkulak. Hasilnya lumayan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Namun, kalau datang sore, biasanya Anda akan menjumpai warga tengah mencari landak laut untuk dijadikan makanan malam harinya. Untuk bisa dimakan, landak laut dikepras dulu durinya hingga rata dan kemudian dipecah menggunakan sabit. Daging yang ada di bagian dalam landak laut kemudioan dicongkel. Biasanya warga mencari landak hanya berbekal ember, saringan kelapa, sabit, dan topi kepala untuk menghindari panas.
Landak laut yang didapat biasanya diberi bumbu berupa garam dan cabe kemudian digoreng. Menurut penduduk, daging landak laut cukup kenyal dan lezat. Sayangnya, tak banyak penduduk yang menjual makanan yang eksotik itu. Tapi kalau mau memesan, coba saja meminta pada salah satu penduduk untuk memasakkan. Siapa tahu, anda juga bisa berbagi ide tentang bagaimana memasak landak laut sehingga warga pantai Ngobaran bisa memakai pengetahuan itu untuk berbisnis meningkatkan taraf kehidupannya.

SUMBER: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/ngobaran/

PANTAI GLAGAH Ketika Ombak Garang Berpadu dengan Laguna yang Tenang

PANTAI GLAGAH
Ketika Ombak Garang Berpadu dengan Laguna yang Tenang

Temon, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia
Di pantai paling terkenal di Kulon Progo ini kita bisa memancing, bersepeda, menaiki cano di laguna, bermotorcross ria, hingga sekedar duduk santai menikmati tetrapod yang berjuang memecah ombak sambil menunggu sunset tiba.
Pemecah ombak dan laguna, dua kata itu langsung terlintas ketika mendengar nama Pantai Glagah. Keduanya seperti menunjukkan dua sisi berbeda dari pantai berpasir hitam ini. Ratusan tetrapod yang berjajar di sisi barat tanpa ampun memecah ombak Laut Selatan yang terkenal garang.
Ketika bulan baru dan ombak pantai menggulung-gulung, kita dapat melihat bagaimana ombak pecah dan buihnya menghambur ke daratan. Sementara itu, laguna tenang nan luas di dekatnya nampak begitu bersahabat bagi anak-anak kecil yang ingin bermain air. Ada kapal-kapal wisata tampak terparkir rapi di pinggir laguna, begitu pula dengan perahu bebek warna-warni yang menunggu untuk ditumpangi.
Bagi para pecinta olahraga silahkan bersepeda menyusuri pantai, naik ATV ataupun menaklukkan medan berpasir dengan motorcross. Laguna yang tenang juga asik digunakan untuk mengayuh dayung kano. Jika khawatir melepas anak-anak bermain air di pantai, ada kolam renang kecil bagi mereka sehingga bisa tetap berenang dengan aman. Selain itu, Pantai Glagah juga menjadi surga bagi para pemancing. Memancing dengan teknik casting di atas tetrapod tentu menjadi pengalaman tersendiri. Beberapa jenis ikan seperti Surung, Caru (baby GT), Talang, Pethek (Mlawis), Garon, Layur dan lain-lain bisa kita dapatkan di sini.
Saat matahari sedang terik, menikmati buah semangka atau melon segar yang dijual di jalan menuju pantai langsung dari petani lokal tentu sangat menggiurkan. Nimatilah buah-buahan itu sambil duduk di lincak-lincak yang diteduhi oleh pepohonan cemara udang di sepanjang bibir laguna. Jika lapar datang, beberapa warung yang menjual aneka olahan ikan di sekitar pantai dapat memadamkan rasa lapar seketika.
Setelah seharian bermain di pantai, jangan terburu-buru untuk pergi. Tunggu hingga matahari pulang ke peraduannya. Duduk dan menghadaplah ke barat di pinggir jalan dekat barisan pemecah ombak, nikmati cahaya emas yang memantul sempurna dari permukaan laut dan menyusup melewati celah tetrapod. Dengarkan debur ombak yang pecah, lihatlah langit yang semakin jingga dan rasakan laguna yang semakin tenang. Mereka akan menutup hari dengan begitu manis dan romantis.

SUMBER: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/glagah/

PANTAI BARU Tempat Piknik Asyik dengan Kincir Angin yang Unik

PANTAI BARU
Tempat Piknik Asyik dengan Kincir Angin yang Unik

Desa Poncosari, Srandakan, Bantul, Yogyakarta
Kerindangan pohon cemara udang membuat pantai ini cocok sebagai tempat piknik keluarga. Pemandangannya pun jadi makin unik dengan kehadiran puluhan kincir angin yang menjadi penghasil listrik utama di pantai ini.
Angin semilir menerpa wajah kami ketika YogYES menyusuri Jalan Jalur Lintas Selatan, Bantul, Yogyakarta. Tidak ada kendaraan yang melintas, hanya pemandangan gumuk pasir luas dan tertutup barisan semak kecoklatan. Beberapa tiang besar terlihat mencolok di ujung horizon, berdiri tegak dengan baling-baling yang berputar di ujungnya. Ketika mendekat, jumlah kincir angin yang kami lihat pun semakin banyak, terdiri atas berbagai ukuran yang beranekaragam. Kincir-kincir besar terlihat menjulang puluhan meter, ditemani oleh kincir angin kecil yang menempel di tiang lampu jalanan. Inilah pemandangan unik yang menyambut kami ketika berkunjung ke Pantai Baru, sebuah tempat wisata ramah lingkungan di selatan Yogyakarta.
Pantai Baru memang tidak terlalu terkenal jika dibandingkan dengan Parangtritis atau Krakal, namun keunikannya layak untuk diperbincangkan. Wilayahnya berbatasan langsung dengan Pantai Pandansimo dan Pantai Kuwaru, hanya beberapa ratus meter dari Muara Sungai Progo. Pantai ini disebut pantai "baru" karena baru diresmikan sebagai objek wisata pada bulan Mei 2010, sangat "terlambat" dibandingkan pantai lain yang ada di sekitarnya. Salah satu keunikan pantai ini adalah adanya Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) di dekat pintu masuknya, terlihat puluhan kincir angin yang berdiri tegak di antara kebun dan semak-semak.
"Monggo mas, parkirnya 2000," ujar seorang bapak tua yang menyambut kami di pintu masuk, tepat di ujung jalan tanah yang menghubungkan Pantai Baru dengan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS).
Setelah beristirahat sejenak dari perjalanan, YogYES pun memutuskan untuk berkeliling mencari hal-hal menarik yang ada di pantai ini. Kawasan pantai terasa cukup sepi sore itu, dengan hanya beberapa orang yang sibuk berfoto ria di antara pohon cemara udang nan teduh. Semburat biru terlihat di antara batang-batang pohon kehijauan, menunjukkan keindahan laut selatan dengan ombaknya yang tak pernah tenang. Terkadang, terdengar suara motor ATV yang berjalan kencang di atas pasir pantai hitam, berpadu dengan suara ombak dari laut lepas.
Teduhan pohon cemara udang membuat matahari siang tidak terlalu terik. Udara di sekitar pantai justru terasa sejuk seperti berada di hutan, tanpa ada rasa gerah yang sering kita rasakan di pantai-pantai lain. Hal ini membuat Pantai Baru cocok dikunjungi untuk bersantai bersama keluarga, terbukti dari beberapa rombongan yang sedang asyik berpiknik di pesisir Pantai Baru. Sambil tiduran di tikar atau hammock, kita bisa menikmati suasana pantai nan sejuk. Ngobrol bersama kawan pun terasa asyik ditemani es kelapa muda yang banyak dijual di sekitar kawasan pantai. Jika bosan, kita juga bisa mengendarai motor ATV sambil menjajal trek berpasir yang naik-turun di sekitar hutan pantai.
Puas melihat-lihat daerah pantai yang sepi, kami pun kembali dibuat penasaran dengan kehadiran beberapa kincir angin yang ada di sepanjang jalan menuju Pantai Baru. Ada puluhan menara kincir angin yang berdiri tegak di antara kebun palawija. Ukurannya memang tidak sebesar kincir angin di Eropa yang bisa mencapai tinggi ratusan meter, namun kehadirannya sudah cukup menyita perhatian. Tiangnya terbuat dari besi yang disusun seperti menara seluler, dengan baling-baling besar di ujungnya. Baling-baling ini memiliki struktur khusus yang bisa bergerak bebas secara horizontal. Sebuah sirip di bagian belakang menjadi pengendali utama pergerakan struktur ini, sehingga baling-baling tersebut bisa bergerak tepat ke arah datang angin untuk memaksimalkan tenaga kinetik yang ditangkap.
Rupanya kincir tersebut merupakan hasil bantuan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) pada tahun 2010. Bantuan ini merupakan bagian dari program uji coba pembangkit listrik tenaga alternatif untuk mencukupi kebutuhan energi di kawasan wisata Pantai Baru. Selain menggunakan tenaga angin, rupanya pembangkit listrik ini juga menggunakan tenaga matahari dan biogas dari kotoran sapi milik warga. Secara keseluruhan, sistem pembangkit listrik yang disebut Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) ini mampu menghasilkan energi yang cukup untuk menghidupi berbagai kebutuhan masyarakat di sekitar pantai baru, mulai dari kebutuhan listrik kios-kios makanan laut hingga menjalankan mesin pembuat es bagi para nelayan yang baru bersandar.
Selain sebagai pembangkit listrik, kehadiran kincir angin ini juga menarik perhatian para wisatawan. Bentuknya yang unik sering dijadikan objek foto para pengunjung yang datang, baik sekedar memotret dari jauh hingga selfie di depan menara. Sayangnya, posisi kincir angin yang ada di tengah kebun dan semak-semak sedikit menyulitkan kita untuk berfoto lebih dekat. Selain itu, beberapa kincir angin juga terlihat mulai rusak, mulai dari sekedar berkarat hingga kehilangan baling-baling. Tapi hal ini tetap tidak menghilangkan niat para wisatawan untuk mengabadikan pemandangan unik ala Eropa tersebut.
Setelah beberapa jam berkeliling dan menikmati suasana pesisir laut selatan yang sejuk, kami pun memutuskan untuk pulang. Cahaya mentari temaram mulai menghilang di ufuk barat, menyajikan pemandangan siluet kincir angin yang sayang untuk dilewatkan. Kami pun kembali menyusuri Jalan Jalur Lintas Selatan yang panjang dan sepi, namun kali ini kami ditemani cahaya lampu jalan yang dengan kincir-kincir kecil di atasnya. Sungguh pemandangan yang menawan!

SUMBER: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/baru/

PANTAI NGONGAP Menyusuri Jejak Sang Penjelajah Junghuhn

PANTAI NGONGAP
Menyusuri Jejak Sang Penjelajah Junghuhn

Rongkop Girisubo, Gunungkidul, Yogyakart
Menikmati tebing curam tempat bertemunya Pulau Jawa dan Samudra Hindia, sambil menyusuri jejak langkah sang penjelajah legendaris Franz W. Junghuhn
Bagi seorang petualang, sebuah pantai tidak harus memiliki pasir yang lembut atau air yang jernih untuk berenang, cukup sebuah suasana yang mendekatkan diri pada sang alam. Hal inilah yang mungkin dirasakan oleh Franz Wilhelm Junghuhn (seorang penjelajah kenamaan asal Jerman) yang terkagum-kagum ketika menapaki pantai Ngongap (atau Ngungap) di Gunungkidul, Yogyakarta pada tahun 1856 silam. Setelah berjalan berminggu-minggu melewati belantara tanah Jawa yang masih liar, akhirnya Junghunh mencapai pesisir selatan Jawa yang terkenal liar, penuh deburan ombak langsung dari Samudra Hindia. Di pantai karang yang terjal inilah Junghuhn memetakan pemikirannya tentang keindahan alam, kekayaan tradisi, serta kemakmuran tanah Jawa yang penuh nuansa spiritualisme. Junghuhn pun mengabadikannya dalam sebuah lukisan berjudul "Sudkuste bei Rongkop", sebuah mahakarya yang justru terlupakan oleh masyarakat Indonesia itu sendiri.
Satu setengah abad kemudian, kami pun berusaha mencari tahu keberadaan pantai yang membuat sang petualang jatuh hati. Cukup sulit menemukan pantai berkarang ini, apalagi di tengah landscape Gunungkidul yang berliku dan penuh karang terjal. Nuansa petualangan terasa kuat ketika jalan aspal yang kami lalui tiba-tiba berubah menjadi jalan berbatu, membuat sang supir merasa kewalahan menapaki gundukan-gundukan tanah yang mengadu ban mobil kami. Namun, semua kesulitan itu terbayar ketika kami sampai di Pendopo tua tempat Junghuhn singgah 159 tahun yang lalu, tepat di pinggir karang terjal dengan desiran ombak yang terus memanggil tanpa henti.
Rasa takjub langsung terasa saat kami menyaksikan jejeran tebing karang yang seakan tidak berubah sejak tahun 1856, persis seperti dalam lukisan "Sudkuste bei Rongkop". Alur-alur karang terjal nan kuat bergelombang indah di kanan dan kiri, dengan tegap menantang ombak raksasa dari Samudra Hindia. Di Pantai Ngongap, daratan seakan berhenti mendadak (sekitar 100 meter di atas permukaan laut) hanya untuk digantikan langsung oleh samudra biru nan dalam dengan ombaknya yang kejam, menggambarkan kekuatan sang alam itu sendiri. Luar biasa!
Persis seperti yang diceritakan oleh Junghuhn dalam buku-bukunya, daerah karang dan lautan di sekitar Pantai Ngongap masih menjadi surga bagi para burung berliur emas. Goa-goa di bawah karang menjadi rumah yang sempurna bagi burung walet (Aedromus sp), terlindung dari gangguan predator yang berusaha mencuri sarang mereka. Pada waktu-waktu tertentu, masyarakat sekitar memanfaatkan lokasi ini untuk memanen sarang burung walet yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah per kilogram, namun dengan resiko yang juga tinggi. Peralatan yang digunakan untuk mencapai gua harta karun ini kurang lebih sama dengan masa Junghuhn, hanya menggunakan tangga tali tambang yang masih tergantung dengan erat di sebuah pohon besar di dekat pendopo. Hidup-mati para pendulang liur emas ini bergantung hanya pada seutas tali sederhana ini, beserta kemurahan hati sang alam yang mereka tantang.
Selain burung walet, tebing-tebing karang ini juga menjadi lokasi bersarang beberapa satwa lain, seperti si burung cantik Buntut-sate Putih (Phaeton lepturus) yang mengundang rasa penasaran para fotografer satwa liar di seantero negeri. Lautan di bawahnya pun kaya akan ikan-ikan besar, seperti Cakalang (Katsuwanus pelamis) yang menjadi target para pemancing dari berbagai daerah di tanah Jawa. Terkadang, berbagai macam hewan laut lain seperti penyu, lumba-lumba atau bahkan hiu bisa terlihat berenang ke permukaan air, cukup jelas untuk dilihat dari atas tebing yang tinggi. Menakjubkan!
Dengan landscape yang luar biasa indah dan kekayaan alam yang sangat tinggi, kami pun tidak heran bagaimana pantai tanpa pasir ini bisa memikat hati sang petualang. Barisan karang tajam dan deburan ombak yang kejam ternyata menyimpan harta karun yang berlimpah, terjaga dari tangan-tangan rakus agar bisa dinikmati oleh anak-cucu kita di masa depan. Pada akhirnya, kami pun memahami perasaan sang Franz Wilhelm Junghuhn yang memutuskan untuk pindah selama-lamanya ke tanah Indonesia, tempat yang dulunya dianggap liar dan terasing, namun penuh dengan keindahan bagi sang petualang sejati.

SUMBER: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/ngongap/

PANTAI SADRANAN Surga Baru untuk Menyelami Keindahan Bawah Laut

PANTAI SADRANAN
Surga Baru untuk Menyelami Keindahan Bawah Laut

Dusun Pulegundes II, Desa Sidoarjo, Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia
Jika selama ini kita hanya dapat menikmati keindahan Pantai Sadranan dari permukaannya saja, sekarang kita bisa juga mencoba olahraga snorkeling; menyelami keindahannya - masuk ke kedalaman diri dan tenggelam di keluasan-Nya.
"Bagaimana buih dapat melayang tanpa ombak? Bagaimana debu terbang ke puncak tanpa angin? Bila kau lihat debu, lihatlah pula Sang Angin; bila kau lihat buih, lihat pula Sang Samudra Tenaga Penciptaan." - Rumi
Pantai Sadranan merupakan salah satu obyek wisata alam yang banyak digemari untuk berlibur melepas penat dari rutinitas yang sibuk. Namun pantai ini bukan sekedar tempat berwisata saja. Bagi masyarakat sekitar, Pantai Sadranan merupakan tempat untuk mencari nafkah serta sebagai sarana untuk melakukan kegiatan yang bersifat religi yaitu kegiatan yang terdapat unsur religi dan kepercayaan. Asal usul nama pantai Sadranan sendiri berasal dari kata 'nyadran' yaitu ritual sedekah laut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta lautan atas rezeki yang telah mereka dapatkan berupa hasil tangkapan laut yang melimpah. Nyadran merupakan salah satu bentuk cara manusia mengingat kuasa-Nya melalui ciptaan-Nya; laut, sungai, gunung, langit, melalui apapun yang kita lihat dan sentuh, begitupun masyarakat sekitar pantai dengan melakukan nyadran melebur kembali ke dalam kuasa-Nya dengan penuh rasa syukur.
Pantai Sadranan, selain penting sebagai tempat mencari nafkah bagi masyarakat sekitar juga menjadi favorit bagi para wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Gunungkidul. Sebab selain terkenal sebagai salah satu surga pantai berpasir putih yang terhampar di sepanjang selatan Pegunungan Seribu, Pantai Sadranan merupakan salah satu pantai yang belakangan ini banyak digemari karena dapat dijadikan sebagai tempat snorkeling. Lokasi Pantai Sadranan berada di Dusun Pulegundes II, Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Pantai Sadranan tentu tidak asing lagi di telinga kita meski lokasi pantai ini memang agak tersembunyi diapit antara Pantai Krakal, Slili, dan Pantai Ngandong. Meskipun begitu, Pantai Sadranan tetap menjadi favorit untuk dikunjungi terutama oleh anak-anak muda.
Biasanya pantai ini selalu ramai pada saat akhir pekan, banyak anak muda yang berkemah dan menikmati malam di tepi pantai sebelum menghabiskan Minggu dengan bermain-main air. Selain bersantai menikmati indahnya lautan dan gulungan ombak yang berlari-berkejaran seolah ingin menggapai kaki-kaki kita dengan sentuhannya yang dingin, tentu saja kita dapat bermain air sambil mencoba snorkeling dan mengenal lebih dekat lagi kehidupan yang beraneka ragam di dalamnya.
Bagi para wisatawan yang sedang berlibur di Yogyakarta, terutama warga Yogyakarta sendiri, selain dapat menikmati keindahan pasir putih Pantai Sadranan dan beningnya lautan dengan senjanya yang mempesona juga dapat menikmati keindahan bawah lautnya yang tak kalah menawan beserta terumbu karang yang cantik menghiasi sepanjang bibir pantai dan ikan-ikan yang beraneka ragam. Menyaksikan semua keindahan itu tentunya dapat mengurangi penat yang membebani, dengan memandang keluasan serta keindahannya mengingat kembali tangan-tangan gaib sang Maha Pencipta dengan penuh rasa syukur dan nafas yang panjang.
Tetapi kita pasti berpikir apakah aman atau tidak untuk berenang apalagi melakukan snorkeling di pantai selatan yang terkenal dengan ombaknya yang besar. Sebelum melakukan snorkeling tentu saja hal yang perlu kita ketahui adalah waktu-waktu yang tepat untuk melakukannya, yaitu pada saat laut sedang surut di pagi ataupun sore hari. Bagi yang tidak membawa alat snorkel tidak perlu khawatir sebab di sana terdapat tempat untuk menyewa perlengkapan snorkel. Jadi bagi kalian yang ingin mengenal lebih dekat dunia dalam laut, silakan datang ke Pantai Sadranan lalu cobalah olahraga snorkeling.
Tips & info
  • Untuk menuju ke Pantai Sadranan kita bisa mengambil jalan lewat Pantai Krakal, lalu susuri jalan sepanjang Pantai Krakal ke arah timur sampai menemukan petunjuk jalan masuk menuju area Pantai Sadranan
  • Waktu yang tepat untuk snorkeling yaitu saat air surut di pagi atau sore hari
  • Jangan melupakan keamanan dengan menggunakan pelindung kaki agar tidak terluka akibat terkena karang ketika snorkeling
  • Yang utama kita juga harus menjaga terumbu karang yaitu tidak merusaknya dengan tangan ataupun menginjakkan kaki kita di atas terumbu karang
SUMBER: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/sadranan/

PANTAI JOGAN Peraduan Eksotik Air Terjun dan Laut di Selatan Yogyakarta

PANTAI JOGAN
Peraduan Eksotik Air Terjun dan Laut di Selatan Yogyakarta

Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia
Air terjun di bibir laut adalah sesuatu yang langka di Indonesia, bahkan dunia. Tersembunyi di balik perbukitan karst, Gunungkidul di selatan Yogyakarta ternyata menyimpan air terjun yang jatuh langsung ke bibir laut. Sebuah pesona yang sulit ditolak.
Senja ikut menyambut ketika YogYES tiba di Pantai Jogan. Diapit tebing-tebing tinggi khas pegunungan kapur, Pantai Jogan bak peraduan, tempat air sungai turun gunung menemui ombak yang pulang melaut. Dari puluhan pantai yang berserak di sepanjang 71 kilometer pesisir Gunungkidul, Pantai Jogan menempati posisi istimewa karena keberadaan air terjun yang langsung jatuh dari atas tebing ke bibir laut, mengingatkan pada McWay Beach Waterfall di California. Selama ini, tak banyak pelancong yang tahu tentang Pantai Jogan. Lokasinya yang persis berada di sebelah barat Pantai Siung sering terlupa oleh para pemanjat yang dipacu semangat memeluk moleknya tebing Siung.
Untuk mencapai Pantai Jogan, perlu waktu sekitar dua jam berkendara dari Jogja. Menyusuri jalanan aspal mulus, berkelok-kelok membelah perbukitan karst yang merupakan sisa lautan jutaan tahun silam. Bila kita sampai di Pos Retribusi Pantai Siung, artinya Pantai Jogan sudah dekat, karena sekitar 400 meter dari pos tersebut, akan terlihat papan kayu penunjuk arah menuju Jogan. Menggantikan aspal mulus, jalan setapak menjadi pemandu selanjutnya, mengantar Anda dengan didampingi dua sungai kecil di sisi kiri yang nantinya akan menyatu lalu menjelma menjadi air terjun. Sayang sekali, keelokannya hanya bisa disaksikan saat musim penghujan, sementara di musim kemarau debit air sangat kecil ditambah dengan aktivitas penyedotan airnya demi keperluan warga.
Untuk bisa menikmati guyuran air dari atas tebing, kita harus turun ke bawah. Ada dua cara untuk turun, pertama dengan tehnik canyoning alias rappeling di air terjun. Tentu diperlukan peralatan dan kemampuan mumpuni untuk melakukannya. Kedua, menapaki turunan licin yang basah. Untunglah tersedia kayu-kayu pegangan sebagai penopang tubuh. Meski begitu, kehati-hatian adalah hal wajib karena jalur yang curam. Setelah batuan curam nan licin, tersisa satu lagi tantangan, kita masih harus melewati karang yang dihuni oleh ribuan bayi kepiting berwarna transparan berukuran sekitar 5 mm. Ini memang bukan koloni kepiting merah penghuni Christmas Island (yang dekat Jawa Barat tapi dimiliki Australia), namun melewatinya dengan kaki telanjang tentu bukan perkara sederhana. Penduduk sekitar biasa mengambil bayi kepiting ini untuk dimasak, menjadi teman makan nasi hangat di kala musim hujan. Bila beruntung, pengunjung juga bisa menyaksikan ratusan kupu-kupu bergerombol di bebatuan kering.
Nah, sampailah Anda. Berlatar ungunya langit senja, menatap lepas ke Samudera Hindia, menyaksikan Poseidon melempar gulungan ombak yang seolah siap melahap, sementara di balik punggung, suara air terjun memekakkan telinga, pertanda derasnya air yang jatuh. Tak perlu merasa ngeri, nikmatilah keramahan percikan air saat kaki-kaki air menjamah kerasnya batuan karang. Menyambut sopan sebelum Anda menyibak tirai air, memasuki peraduan grojogan. Diguyur segarnya air tawar dari sungai-sungai rahasia perbukitan karst membuat kita merasa seolah kegersangan Gunungkidul hanyalah mitos. Karena sebenarnya daerah ini punya banyak sekali sumber air, yang sayangnya tersembunyi di perut bumi.
Pantai Jogan adalah pemberi kesegaran, laksana oase di luasnya hamparan pantai pasir putih Gunungkidul. Juga seperti garnishes di piring yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Pantai yang tepat bagi Anda yang ingin merasakan sensasi berbeda dari surga pesisir selatan Jogja.
SUMBER: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/jogan/